GANTI DOMAIN MU !

Showing posts with label Partai Demokrat. Show all posts
Showing posts with label Partai Demokrat. Show all posts

Ironi Iklan Antikorupsi Partai Demokrat

Liputan6.com, Jakarta: Penetapan Angelina Sondakh menjadi tersangka kasus korupsi wisma atlet di Palembang, Sumatra Selatan, menjadi sebuah ironi. Sebab, dalam Pemilu 2009 silam, politisi yang akrab disapa Angie ini menjadi salah satu bintang iklan antikorupsi Partai Demokrat. Dalam iklan itu, janda almarhum Adjie Massaid ini dengan lantang mengatakan tidak pada korupsi. 

Menurut Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), harta Angie naik drastis. Dari 2003 sebelum menjadi anggota DPR sekitar Rp 600 juta, pada 2010 naik menjadi Rp 6 miliar lebih. Artinya, saat menjadi anggota DPR kekayaan Angie naik 10 kali lipat.

Belum lagi harta kekayaan lainnya, seperti tanah, sejumlah mobil mewah, batu mulia, barang antik, dan surat berharga yang melonjak tajam saat ia duduk menjadi anggota Dewan yang terhormat. Walau begitu, banyak masyarakat yang tak percaya Angie menjadi tersangka korupsi.

Dalam beberapa kesempatan, Angie pun mengeluarkan bantahan terhadap kasus korupsi yang dituduhkan padanya. Kita berharap pengadilan akan membuktikan iklan katakan tidak pada korupsi menjadi benar-benar nyata, bukan sekadar pencitraan semu semata.(BOG)
Baca Selengkapnya...

Inikah Penyidik KPK yang Sukses Rebut Hati Angelina Sondakh?

TRIBUNNEWS.COM, 

JAKARTA - Di tengah Hari Antikorupsi se-dunia yang jatuh hari Jumat (9/12/2011)i, KPK dikejutkan dengan isu miring penyidiknya yang bernama BS telah menjalin asmara dengan politisi cantik dari Partai Demokrat, Angelina Sondakh.
Namun, hangatnya pemberitaan bukan karena kecantikannya, melainkan Angelina juga menjadi pihak yang tengah berperkara dalam kasus Wisma Atlet di KPK. Namun, hal itu langsung dibantah KPK dan dinyatakan BS tidak menangani kasus Wisma Atlet tersebut.
Pihak KPK sendiri saat ini tengah mendalami sejauhmana hubungan antara Brotoseno dengan terperiksa Angelina.
Juru bicara KPK Johan Budi mengatakan, jika benar adanya hubungan di antara keduanya, ia memastikan tak akan mempengaruhi penyidikan kasus Wisma Atlet. "Saya kra tidak akan mempengaruhi penyidik lain," ujar Johan.
Berdasarkan yang informasi yang dikumpulkan Tribunnews.com, BS adalah alumnus Akademi Kepolisian Angkatan 1999 dan kini berpangkat Komisaris Polisi.
Sebuah foto yang diperoleh Tribunnews.com dari akun facebooknya, menunjukkan kegagahan BR dengan berbalut seragam kepolisian. Belum lama ini, ia juga berulang tahun pada 11 Oktober lalu.
.
Baca Selengkapnya...

Komite Etik KPK Periksa Anas Urbaningrum

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Komite Etik KPK, Selasa (16/8) menjadwalkan pemanggilan terhadap Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum. Anas akan dimintai keterangan terkait pertemuannya dengan Wakil Ketua KPK Chandra Hamzah. "Sebenarnya Pak Anas dijadwalkan tanggal 22 Agustus pekan depan, tapi beliau sendiri yang minta supaya hari ini diperika," kata anggota Komite Etik sekaligus penasehat KPK, Said Zainal Abidin melalui pesan singkatnya, Selasa (16/8) dinihari.  

Berdasarkan informasi yang dihimpun, permintaan Anas untuk diperiksa lebih cepat itu terkait dengan rencananya yang akan melaksanakan ibadah umroh ke tanah suci Makkah selama beberapa hari ke depan. Informasi tersebut dibenarkan Ketua Departemen Komunikasi dan Informasi, Ruhut Sitompul. "Iya, Pak Anas izin umroh, sudah izin ke Pak SBY," ujar Ruhut, Senin (15/8). 

Namun, Ruhut membantah bila kepergian Anas untuk menghindari pemeriksaan Komite Etik KPK. "Umroh itu kan cuma 5 sampai 6 hari, jadi tidak lama, tidak ada istilah menghindar, kader Demokrat akan datang kalau dimintai keterangan, kayak Benny K Harman hari ini di panggil ke KPK," ujar Ruhut. Sehari sebelumnya, Senin (15/8), Komite Etik juga telah meminta keterangan dari petinggi Demokrat lainnya, seperti Wakil Sekretaris Jenderal Demokrat Saan Mustopa dan Ketua Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat Benny K Harman. Pemeriksaan itu dilakukan terkait dengan dugaan pelanggaran kode etik oleh para petinggi KPK, seperti dituduhkan tersangka korupsi proyek wisma atlet SEA Games, Muhammad Nazaruddin. Mereka juga dituduh melakukan rekayasa pada kasus suap tersebut.

Baca Selengkapnya...

Jemput Nazaruddin, SBY Ketakutan

K. Yudha Wirakusuma - Okezone JAKARTA - Petisi 28 menilai bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tengah panik atas ucapan “Nazaruddin” yang mengancam akan membongkar bunker-bunker penyimpanan uang Partai Demokrat. "Dia ketakutan dengan Nazaruddin," singkat Aktivis Petisi 28 Haris Rusli di Doekoen Coffee, Jakarta Selatan, Minggu (29/5/2011). Dia juga mengatakan bahwa rencana SBY untuk membuat tim guna membujuk Muhammad Nazaruddin pulang ke Tanah Air, hanya sandiwara semata. "Banyak resiko jika Nazaruddin pulang, seperti kepentingan internal Partai Demokrat, takut kehadiran Nazaruddin ke Indonesia. Sebab Nazaruddin mengancam membongkar apa yang disebut kasus bunker-bunker Partai Demokrat dengan cara tidak halal," pungkasnya. (lam)

Baca Selengkapnya...

Testimony Mengatasnamakan Nazaruddin Muncul di Blog

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Sebuah testimoni yang mengatas namakan Muhammad Nazaruddin muncul dalam sebuah blog di internet. Blog bertitel ‘testimoni muhammad nazaruddin’ yang beralamatkan http://nazaruddin78.blogspot.com itu memuat tulisan berjudul ‘Bertepuk Tanganlah Partai Lain (Testimoni 1)’ tertanggal Senin, 30 Mei 2011. Tulisan ini menceritakan bahwa betapa partai lain diuntungkan dengan apa yang menimpa Partai Demokrat saat ini. Si penulis, yang mengaku Nazaruddin, mengatakan bahwa tudingan bertubi-tubi yang menghantam dirinya belakangan merupakan scenario untuk menghancurkan Demokrat. Testimoni tersebut juga menuduh Ketua dan Sekjen MK telah membuat scenario pengrusakan nama baik Nazaruddin. Terakhir, si penulis mengatakan dalam waktu dekat akan membuka diri, termasuk melakukan live chatting dengan komunitas online untuk menyampaikan apa yang sesungguhnya terjadi. Berikut kutipan testimoni yang mengatas namakan Nazaruddin dalam blog tersebut: Bertepuk Tanganlah Partai Lain (Testimoni 1) Saya Muhammad Nazaruddin, Anggota DPR RI Komisi VII, Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, saat ini masih menjabat Benhadara Fraksi Partai Demokrat. Saya bukanlah penulis, namun pembusukan karakter terhadap diri saya belakangan yang tak berkira membuat saya memanfaatkan media sosial menuliskan testimoni. Dalam testimoni pertama ini, ingin saya tegaskan bahwa apa yang menimpa Partai Demokrat hari ini, telah membuat partai lain bersorak. Merekalah sesungguhnya diuntungkan. Teriakan pertama meraka bisa jadi: rasain Partai Demokrat. Dalam gurauan sesama anggota DPR RI, saya pernah mendengar selentingan, jika ingin menghancurkan partai, maka bidiklah Bendahara Umumnya. Maka tak berlebihan setelah saya mengalami tudingan bertubi-tubi, menjadi terang benderang bahwa segalanya ini memang menjadi sebuah skenario yang sudah direncanakan. Skenario pertama: memojokkan diri saya dituding memperkosa SPG. Perihal ini secara hukum tidak terbukti. Bagaiman saya memperkosa bila kamar yang saya tempati ketika Munas Partai Demokrat, juga diisi oleh staf saya, dan ruang rapatnya menjadi bagian pertemuan informal meeting-meeting Munas. Indikasi mengirim SPG ke kamar saya menawarkan jasa, sudah menjadi sebuah skenario karangan cerita, pada 2010 lalu. Lepas dari tudingan memperkosa, ada momentum menghajar saya bermasalah di bisnis batubara. Sementara keterlibatan saya hanya memediasi seseorang yang butuh modal kerja ke sosok pemilik modal yang ingin mengusahakan uangnya bergulir dalam jangka pendek. Begitu pihak yang ditolong tak mampu mengembalikan uang, nama saya dibawa-bawa. Bukankah sosok yang bermsalah tidak perfom yang harus diusut? Jsuteru akses dan kepercayaan saya menjadi rusak di mata relasi. Berikut kasus Sesmenpora, sebagaimana sudah saya sampaikan, hukum bisa membuktikan apakah benar saya menjadi bagian: bukankah Kementrian Negara Olahraga itu bisa diusut oleh KPK siapa dalang dan pelaku penyogokan, biarlah ranah hukum yang membuktikan. Sedangkan isu pengembalian uang oleh Sekjen MK, perihal ini isapan jempol belaka. Sebagaimana hari ini pukul 17 saya sampaikan kepada pemirsa Metro TV, bahkan saya dikonfrontir dengan Sekjen MK, saya sampaikan apakah masuk akal pengembalian uang ke Satpam, lalu uang dihitung dan Satpam diam saja. Padahal di tanggal dan jam yangd imaksud saya ada di dalam rumah. Logikanya Stapam manapun pasti memberi tahu majikan ada uang besar diantar. Bagi saya Mahfud MD dan Sekjen MK, telah melakukan pembohongan publik. Mereka membuat skenario perusakan nama baik saya. Karenanya saya katakan saya akan melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian. Dan berikutnya hal yang tak masuk akal, pencekalan terhadap diri saya, yang masih anggota DPR-RI aktif dengan begitu cepat, tanpa proses hukum, tak pelak lagi sebagai puncak benang merah bagian skenario penghancuran kredibilitas saya. Maka dengan singkat saya katakan bahwa semua isapan jempol ini sudah menjadi bagian perusakan dan penghancuran Partai Demokrat melalui cara menembak secara amat kasar dan keji diri saya. Oleh sebab itu dalam waktu dekat saya akan membuka diri; termasuk melakukan live chatting dengan semua komunitas online, media alternatif di Indonesia, untuk menyampaikan apa yang sesungguhnya terjadi dari sudut pandang saya. Akhir kata, goresan tulisan ini bukanlah sebuah pembelaan. tetapi sebagai sebuah catatan, yang layak dan wajar saya tuliskan. Khususnya kepada media yang bekerja profesional, saya hanya bisa menghimbau verifikasilah semua ini, agar publik tidak dibodohi, agar publik juga paham apa yang disebut sebuah fakta kebenaran. (bersambung ke testimoni berikutnya) 

Baca Selengkapnya...